![]() |
| Sumber/Google |
Di sudut-sudut perempatan lampu merah Jakarta, sering terdengar suara serak namun penuh semangat. Suara itu biasanya datang dari anak-anak kecil yang membawa gitar mainan, botol bekas, atau sekadar tepukan tangan. Mereka adalah anak-anak pengamen sosok mungil yang seharusnya duduk di bangku sekolah, namun kenyataannya mencari rezeki di jalanan.
Suara Kecil yang Berjuang
Salah satunya adalah Dika (10), yang saya temui di kawasan Pasar Minggu. Dengan gitar kecil yang senarnya hanya tinggal tiga, ia mendekati mobil-mobil saat lampu merah menyala. “Kalau lagi ramai bisa dapat Rp30.000–40.000 sehari. Buat beli nasi sama kasih ke ibu,” ujarnya polos.
Dika mengaku sudah setahun lebih mengamen setelah ayahnya berhenti bekerja sebagai buruh harian. “Sekolah sih masih, tapi kadang bolos kalau capek,” tambahnya.
Kisah Dika hanyalah satu dari ratusan anak yang nasibnya serupa. Data dari Komnas Perlindungan Anak (2023) mencatat masih banyak anak jalanan di Jakarta yang menggantungkan hidup dengan mengamen, menjajakan tisu, atau meminta-minta.
Antara Hiburan dan Keprihatinan
Bagi sebagian orang, kehadiran pengamen kecil di jalanan adalah hiburan singkat. Namun bagi yang lain, pemandangan itu menyisakan perasaan miris. “Saya kasihan lihat mereka. Harusnya main, bukan nyanyi di jalanan yang bahaya,” kata Rani (28), seorang karyawan yang sering melewati perempatan Pancoran.
Di media sosial, fenomena ini juga kerap jadi sorotan. Akun Instagram @infobekasi pada awal 2024 sempat mengunggah video seorang anak perempuan mengamen dengan suara merdu di bus kota. Video itu viral dan banyak komentar yang bernada simpati: “Bakatnya luar biasa, semoga ada yang bantu.” Namun ada pula komentar yang mengkritik orang tua sang anak karena dianggap membiarkan anaknya bekerja di jalan.
Risiko di Balik Lagu
Mengamen di jalan bukanlah aktivitas tanpa risiko. Anak-anak pengamen rentan mengalami kecelakaan lalu lintas, kekerasan, bahkan eksploitasi. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pernah menegaskan bahwa fenomena ini adalah bentuk pelanggaran hak anak. “Anak seharusnya mendapat pendidikan dan perlindungan, bukan dipaksa mencari uang di jalan,” ujar Retno Listyarti, komisioner KPAI, dalam konferensi pers (2023).
Namun kenyataannya, banyak keluarga yang terhimpit ekonomi sehingga tak punya pilihan lain. “Kalau nggak turun ke jalan, kami makan apa?” ujar seorang ibu yang anaknya kerap mengamen di kawasan Blok M.
Harapan yang Tersisa
Di tengah keprihatinan, ada juga secercah harapan. Beberapa komunitas relawan seperti @komunitasjalanan dan @savechildren.id aktif menggalang dana untuk membiayai sekolah informal bagi anak-anak pengamen. Program ini bertujuan memberi ruang belajar sekaligus mengurangi jam mereka di jalanan.
“Anak-anak ini sebenarnya punya bakat luar biasa. Tinggal bagaimana kita memberi wadah,” kata Bima, seorang relawan pendidikan, ketika diwawancarai dalam kanal YouTube Peduli Sesama.
Refleksi Mahasiswa
Sebagai mahasiswa, saya melihat kehidupan anak-anak pengamen sebagai cermin ketidakadilan sosial. Mereka bukan sekadar suara kecil yang bernyanyi di jalanan, melainkan representasi dari persoalan ekonomi keluarga, sistem pendidikan, dan tanggung jawab negara. Setiap nada yang mereka nyanyikan adalah jeritan kecil untuk didengar, bukan sekadar hiburan di lampu merah.
Di balik gitar kecil dan suara serak itu, ada harapan besar: semoga suatu hari anak-anak ini bisa bernyanyi di panggung yang lebih layak, bukan di tengah deru kendaraan.
Referensi
- Komnas Perlindungan Anak (2023). Data anak jalanan di Jakarta.
- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Konferensi Pers Perlindungan Anak, 2023.
- Instagram @infobekasi – video anak pengamen viral (2024).
- YouTube Peduli Sesama – wawancara dengan relawan pendidikan (2024).
- Republika.co.id (2023). “Anak Jalanan dan Tantangan Perlindungan Sosial.”

0 Komentar