![]() |
| Sumber/Pinterest |
Di usia
20-an, sebagian besar mahasiswa tengah berada pada masa transisi penting dalam
hidupnya: dari masa remaja menuju kedewasaan. Masa ini bukan hanya tentang
lulus kuliah dan mencari kerja, tetapi juga tentang menemukan jati diri,
menetapkan tujuan hidup, hingga menghadapi tekanan sosial yang datang
bertubi-tubi. Banyak yang menyebut masa ini sebagai quarter life crisis sebuah
istilah yang kini menjadi topik hangat di kalangan anak muda Indonesia.
Menurut
laporan dari IDN Times Millennial Report 2024, sebanyak 67% anak muda Indonesia
yang berusia 20–29 tahun pernah merasakan gejala quarter life crisis, mulai
dari kehilangan arah, kegelisahan akan masa depan, hingga overthinking tentang
pencapaian hidup. Lantas, apakah ini hanya fenomena musiman, atau ada masalah
struktural yang lebih dalam?
Quarter
life crisis umumnya muncul ketika seseorang memasuki usia 20 hingga awal 30-an.
Dalam rentang waktu ini, mereka mulai merasakan tekanan untuk sukses secara
akademik, sosial, dan finansial. Banyak mahasiswa mengaku merasa “tertinggal”
ketika melihat teman sebayanya sudah bekerja, menikah, atau bahkan membuka
bisnis sendiri.
“Saya
merasa gagal ketika teman-teman saya sudah punya karir mapan, sedangkan saya
masih bingung dengan pilihan hidup saya sendiri,” ujar Dwi (21), mahasiswi
Fakultas Akuntansi Insitut Pertanian Bogor.
Lebih dari
sekadar rasa iri atau perbandingan sosial, perasaan ini bisa berkembang menjadi
gangguan psikologis seperti kecemasan berlebih, depresi ringan hingga berat,
serta hilangnya motivasi. Dalam wawancara kami dengan dosen Psikologi Klinis di
Universitas Indonesia, Dr. Erna Marisa, M.Psi., beliau menjelaskan bahwa:
“Fenomena
quarter life crisis bukan sekadar trend sosial media. Ini adalah gejala
psikologis nyata yang harus ditanggapi dengan serius, terutama jika sudah
mengganggu aktivitas dan kesehatan mental individu.”
Menurut
data dari Asosiasi Psikolog Klinis Indonesia (APKI) pada tahun 2023, 43% klien
muda yang datang untuk konseling berusia antara 20 hingga 25 tahun, dan
sebagian besar mengeluhkan masalah seperti kehilangan arah hidup, ketidakpuasan
diri, dan ketakutan akan masa depan.
Sementara
itu, survei oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa hanya 18% mahasiswa
Indonesia yang secara rutin memeriksakan kesehatan mentalnya. Sisanya, masih
enggan atau bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang mengalami quarter life
crisis.
Tak bisa
dimungkiri, media sosial berperan besar dalam mempercepat dan memperparah
krisis ini. Setiap hari, mahasiswa dijejali dengan pencapaian orang lain: lulus
cumlaude, diterima kerja di perusahaan multinasional, traveling ke luar negeri,
atau bahkan menikah muda. Hal ini menimbulkan standar kesuksesan yang tidak
realistis dan membuat banyak orang merasa gagal, meski sebenarnya mereka hanya
berada pada jalan hidup yang berbeda.
Sebagai
mahasiswa yang juga aktif di media sosial, saya merasakan bagaimana tekanan itu
bekerja secara halus namun konstan. Kita membandingkan "highlight
reel" hidup orang lain dengan "behind the scenes" hidup kita
sendiri. Tidak adil, bukan?
Menghadapi
quarter life crisis bukan perkara mudah. Namun, ada beberapa langkah yang dapat
dilakukan mahasiswa untuk menghadapinya:
- Kenali Diri Sendiri
Refleksi menjadi langkah awal. Tanyakan pada diri sendiri: Apa yang saya inginkan? Apa nilai yang saya yakini? Apa arti “sukses” bagi saya? - Batasi Konsumsi Media Sosial
Sadari bahwa apa yang terlihat di media sosial belum tentu mencerminkan kenyataan. Kurangi waktu scroll, dan gunakan lebih banyak waktu untuk kegiatan produktif. - Cari Dukungan Sosial
Jangan ragu untuk berbicara dengan teman, keluarga, atau konselor kampus. Support system yang baik bisa menjadi penyeimbang saat hidup terasa berat. - Jalani Proses, Bukan Sekadar
Hasil
Sadarilah bahwa tidak ada waktu yang "terlambat". Setiap orang memiliki garis waktunya sendiri. Fokus pada kemajuan kecil setiap hari.
Quarter life crisis bukanlah akhir dari segalanya. Justru, ia bisa menjadi
momen awal untuk menyusun kembali arah hidup. Sebagai mahasiswa, kita harus
menyadari bahwa perjalanan hidup bukanlah perlombaan, melainkan proses
pembelajaran yang unik bagi setiap individu.
Sebagaimana kata pepatah: “Setiap orang punya waktunya. Tidak perlu
iri, tidak perlu takut. Yang penting, terus berjalan.”

0 Komentar