Sumber/Pinterest

Di setiap sudut kota besar, jaket hijau dengan logo aplikasi jadi pemandangan yang tak asing. Dari pagi hingga larut malam, sopir ojek online (ojol) hilir mudik membawa penumpang atau makanan, menyusuri jalan raya yang padat. Kehadiran mereka begitu dekat dengan masyarakat, tetapi jarang yang benar-benar memahami kehidupan di balik setir dan helm mereka.

Hidup dengan Target

Bagi sopir ojol, hidup sehari-hari identik dengan target. Target itu bukan hanya angka pesanan dari aplikasi, melainkan juga target pribadi: uang sekolah anak, cicilan motor, biaya kontrakan, hingga kebutuhan dapur. Setiap notifikasi order yang masuk adalah harapan kecil untuk menambah pemasukan hari itu.

Namun, target yang terlihat sederhana itu sering kali terasa berat. Jumlah driver yang terus bertambah membuat persaingan semakin ketat. Sering kali mereka harus menunggu lama di satu titik hanya untuk mendapatkan satu order, sementara bensin dan tenaga terus terpakai.

Risiko di Jalanan Kota

Kehidupan di jalan juga penuh risiko. Hujan deras, jalanan licin, hingga kemacetan panjang menjadi rutinitas yang tak bisa dihindari. Bukan hanya soal lelah, tapi juga ancaman kecelakaan yang selalu mengintai. Tidak jarang sopir ojol tetap memacu motor meski kondisi tubuh sudah letih, demi mengejar tambahan pesanan.

Selain itu, ada pula risiko dari sisi sosial. Pembatalan sepihak dari penumpang, alamat yang sulit ditemukan, hingga permintaan aneh yang terkadang memberatkan. Semua itu menjadi bagian dari keseharian mereka, yang harus dijalani dengan sabar.

Keluarga Sebagai Alasan Bertahan

Meski penuh tekanan, keluarga menjadi sumber energi yang membuat sopir ojol tetap bertahan. Banyak di antara mereka yang rela bekerja sejak fajar hingga larut malam agar anak bisa terus bersekolah. Ada juga yang menjadikan pekerjaan ini sebagai jalan keluar dari sulitnya mencari pekerjaan formal.

Di balik helm yang menutupi wajah, ada ayah yang memikirkan biaya susu anaknya, ada ibu yang memikirkan biaya sewa rumah, ada anak muda yang ingin meringankan beban orang tua. Pekerjaan ini mungkin tampak sederhana, tetapi bagi mereka, setiap order adalah langkah kecil untuk menjaga keberlangsungan keluarga.

Antara Keluhan dan Harapan

Tarif yang dianggap rendah, bonus yang semakin kecil, hingga ketidakpastian aturan sering kali menjadi keluhan sopir ojol. Namun, di tengah segala keterbatasan, pekerjaan ini tetap memberi harapan. Dengan modal motor dan ponsel, seseorang bisa langsung bekerja tanpa syarat ijazah tinggi atau pengalaman panjang.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana transportasi online telah menjadi bagian penting dari denyut kota. Sopir ojol bukan hanya pelengkap, melainkan tulang punggung yang menghubungkan masyarakat dengan kebutuhan sehari-hari, mulai dari mobilitas hingga makanan cepat saji.

Penutup: Wajah Humanis Kota

Kehidupan sopir ojol adalah cermin kerasnya perjuangan di perkotaan. Mereka hidup dengan target yang tidak selalu tercapai, menghadapi risiko yang tidak selalu terlihat, tetapi tetap bertahan demi keluarga yang mereka cintai.

Di tengah gedung pencakar langit, lampu neon kafe, dan hiruk pikuk jalan raya, keberadaan mereka adalah pengingat bahwa kota ini bukan hanya tentang kemewahan, tetapi juga tentang perjuangan sehari-hari yang sederhana namun penuh makna.